SUMEDANG JSR – Keberadaan empat benteng di kawasan sekitar Kota Sumedang, yakni Gunung Kunci, Gunung Palasari, Gunung Gadung I, dan Gunung Gadung II, menyisakan pertanyaan besar tentang posisi strategis Sumedang pada masa kolonial Belanda. Mengapa pemerintah kolonial membangun benteng di empat titik berbeda, Apa yang sebenarnya terjadi di Sumedang tempo dulu hingga kawasan ini dipandang perlu memiliki sistem pertahanan di sejumlah penjuru.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu ditelusuri melalui kajian sejarah lebih mendalam.
Kabid Kebudayaan Disparbudpora Kabupaten Sumedang, M. Budi Akbar, menilai Sumedang masih menyimpan potensi besar peninggalan sejarah, mulai dari bekas bangunan kerajaan hingga berbagai situs yang belum sepenuhnya terungkap. Selasa (13/10)
Menurut Budi, keberadaan empat benteng tersebut menjadi bagian penting dari jejak sejarah Sumedang yang perlu ditelaah lebih lanjut, termasuk untuk mengetahui latar belakang pembangunan, fungsi, serta keterkaitannya dengan situasi Sumedang pada masa itu.
“Besar potensinya lebih banyak peninggalan sejarah, bekas bangunan kerajaan dan sejumlah situs di Sumedang. Itu paling perlu kita telaah dan kaji, seperti peninggalan empat benteng di sekitar kota. Ada apa dengan Sumedang tempo dulu, hingga kolonial Belanda membangun benteng di empat penjuru,” ungkapnya.
Kajian terhadap Gunung Kunci, Gunung Palasari, Gunung Gadung I, dan Gunung Gadung II diharapkan dapat membuka pemahaman yang lebih utuh mengenai strategi pertahanan kolonial sekaligus posisi Sumedang dalam dinamika sejarah masa lalu.
Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, keberadaan benteng-benteng tersebut menjadi petunjuk penting untuk menggali kembali perjalanan sejarah daerah. Penelitian dan pendokumentasian yang lebih mendalam diperlukan agar nilai sejarahnya dapat diketahui masyarakat luas sekaligus menjadi dasar dalam upaya pelestarian cagar budaya di Kabupaten Sumedang. (Dens)

