Ayi Subhan dan Revolusi Cara BAZNAS Mengelola Zakat
Sumedang-JSR// 10 Oktober 2026-Zakat semestinya tidak berhenti di tangan penerima. Ia perlu menjadi jalan keluar dari ketergantungan. Di titik inilah arah kepemimpinan Ketua BAZNAS Kabupaten Sumedang, Ayi Subhan Hafas, tampak berbeda. Zakat tidak diposisikan semata sebagai dana yang dibagikan, tetapi sebagai modal sosial yang harus mampu mengubah kehidupan penerimanya.
Orientasi tersebut ia sampaikan secara terbuka dalam pengembangan zakat produktif BAZNAS Sumedang. Mustahik tidak cukup menerima bantuan. Mereka perlu diberi ruang, kemampuan, pendampingan, dan kesempatan untuk tumbuh hingga pada waktunya mampu menjadi muzakki. Dengan demikian, ukuran keberhasilan bergeser dari banyaknya bantuan yang tersalurkan menjadi banyaknya penerima manfaat yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Dari Pemberian Bantuan ke Pemberdayaan Ekonomi
Pergeseran orientasi ini terlihat dalam program-program yang dijalankan. Z-Auto dan Z-Mart tidak berhenti pada pemberian modal. Keduanya dilengkapi pelatihan, pendampingan, pengelolaan keuangan, evaluasi, dan pengawalan usaha. Dalam Z-Auto, calon montir memperoleh pelatihan sekaligus intervensi permodalan. Dalam Z-Mart, pembinaan diberikan agar warung penerima bantuan mampu berkembang.
Pendekatan ini dapat dikatakan empowerment oriented, bukan charity oriented. Perbedaannya mendasar. Bantuan konsumtif menjawab kebutuhan hari ini, sedangkan pemberdayaan produktif membangun kemampuan menghadapi hari esok. Dalam kerangka itu, BAZNAS berupaya bergerak dari sekadar lembaga penyalur menjadi penggerak perubahan sosial-ekonomi.
Langkah tersebut diperluas melalui Balai Ternak dan, yang terbaru, Program Lumbung Pangan. Pada program terakhir ini, bantuan tidak berhenti pada sarana pertanian. Programnya diarahkan membangun kekuatan ekonomi desa melalui kelompok petani dan komoditas jagung. Di sini tampak pergeseran dari pendekatan individu menuju pendekatan komunitas, yang memandang mustahik sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang dapat dikembangkan.
Alur logikanya dapat dirumuskan sebagai berikut:
zakat → modal → pendampingan → produksi → pendapatan → kemandirian → muzakki
Jika rantai ini berjalan utuh, zakat tidak lagi sekadar berpindah tangan. Ia berputar menjadi kekuatan ekonomi.
Ekosistem Kolaboratif dan Ujian Kepemimpinan
Kekuatan lain dari pendekatan Ayi adalah kecenderungannya membangun jejaring. BAZNAS Sumedang tidak bekerja sendirian. Program pemberdayaan dikembangkan bersama pemerintah, BAZNAS RI, lembaga pendidikan, BLK, kelompok masyarakat, hingga jaringan UPZ. Program Lumbung Pangan, misalnya, digarap bersama BAZNAS RI dan Pemkab Sumedang. Dengan pola ini, kepemimpinan tidak hanya berarti menjalankan program, tetapi juga mengonsolidasikan sumber daya yang tersebar menjadi satu ekosistem pemberdayaan.
Pendekatan ini relevan karena kemiskinan tidak pernah tuntas dengan satu program. Penanganannya membutuhkan data, pendampingan, akses modal, keterampilan, pasar, jejaring, dan kesinambungan.
Karena itu, indikator keberhasilan BAZNAS ke depan perlu lebih substantif daripada jumlah dana terkumpul atau bantuan tersalurkan. Indikator yang layak dipakai antara lain: jumlah mustahik yang naik kelas, jumlah usaha yang bertahan, peningkatan pendapatan penerima manfaat, dan jumlah penerima manfaat yang akhirnya lepas dari ketergantungan.
Pada akhirnya, pembaruan pengelolaan zakat tidak terletak pada banyaknya nama program. Z-Auto, Z-Mart, Balai Ternak, dan Lumbung Pangan hanyalah instrumen. Yang lebih menentukan adalah cara berpikir di baliknya: zakat dikelola dengan orientasi hasil, dan mustahik dipandang sebagai titik awal pemberdayaan, bukan tujuan akhir.
Jika pendekatan ini konsisten, BAZNAS Sumedang tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan, tetapi juga membantu mereka keluar dari posisi membutuhkan. Itulah makna paling substantif dari gagasan “Dari Mustahik Menuju Muzakki”: keberhasilan zakat bukan saat bantuan selesai dibagikan, melainkan saat tangan yang dahulu menerima suatu hari mampu menjadi tangan yang memeberi

